KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KALIMANTAN TIMUR

Kebakaran hutan dan lahan awalnya terjadi pada tahun 1870 yakni hilangnya hutan – hutan primer karena cepatnya peningkatan populasi penduduk yang disertai dengan aktivitas manusia seperti api untuk berburu dan pembersihan lahan, akses jalan, serta perubahan hutan menjadi lahan peternakan (Whitmore, 1975). Berdasarkan pengalaman sejarah, tingkat kebakaran hutan di Indonesia yang cukup tinggi, terjadi  di Kalimantan Timur pada tahun 1972, Kemudian tahun 1982/1983  yang menghancurkan 3,2 juta hektar, hingga puncaknya pada tahun 1997/1998 (Wijaya, 2000).

Data terbaru menunjukan bahwa dalam kurun tiga tahun terakhir tercatat sedikitnya empat kasus besar kebakaran hutan dan lahan di pulau sumatera dan Kalimantan. Berdasarkan data yang kami dapatkan pada tahun 2012 di Kab. Kayong Utara, Prov. Kalimantan Barat 50 Ha lahan terbakar. Pada tahun 2013 kebakaran terjadi di Kab. Siak dan Kota Dumai, Prov. Riau menghanguskan 2.500 s/d 3.000 ha area hutan, Kab Pekan Raya, Prov. Riau lahan seluas 800 ha lahan gambut terbakar, di Kota Banjar Baru dan Kab. Banjar Provinsi Kalimantan Selatan ± 100 ha lahan gambut dan lahan pertanian terbakar. (geospasial.bnpb.go.id)

Setidaknya ada tiga aspek permasalahan utama yang diterima oleh negara Indonesia antara lain : aspek ekologi, aspek ekonomi, aspek sosial politik. Upaya menjawab problematika tersebut dilakukan dengan mengembangkan pengetahuan lokal masyarakat suku Dayak Benuaq dalam pengelolaan dan pengendalian penggunaan api. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mempunyai cara-cara pengendalian api (Marepm Api) yang sudah dikenal sejak jaman leluhur mereka dan diwariskan kepada penerusnya. Cara tradisional atau disebut teknologi tradisional pengendalian api (Marepm api) ini digunakan oleh masyarakat umumnya pada waktu kegiatan berladang, khususnya pada tahap pembakaran ladang. Pada peristiwa kebakaran tahun 1997/1998 seluruh masyarakat ikut serta dalam proses pengendalian kebakaran hutan yang terjadi termasuk kaum ibu-ibu. Dengan skala yang lebih luas keadaan ini berbeda dengan saat pembukaan ladang, dalam hal mana pembakaran hanya dilakukan oleh para pemilik ladang. Kegiatan ini dikoordinir langsung oleh kepala desa dengan dibantu oleh staf desa. (Wijaya, 2002).

Melihat potensinya yang begitu besar, eksplorasi ini sengaja dilakukan untuk menambah perbendaharaan solusi tepat guna yang efekif dan efisien bagi pemangku kebijakan – kebijakan publik bahwa pelibatan penyelesaian masalah ini haruslah meliputi semua elemen baik sipil maupun pemerintahan.

TEMU KARYA NASIONAL PRAMUKA PANDEGA PERTI – UGM

Hello Indonesia !

Salam Pramuka !

TKNP3T – UGM merupakan agenda dari LUSTRUM VII yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Alhamdulilah saya Eko Aji Mustiko menjadi delegasi dari Pramuka Universitas Mulawarman – Samarinda sebagai Peserta pada agenda tersebut. Beberapa kegiatan yang saya ikuti yakni SEMINAR NASIONAL, PELATIHAN GUIDE, PELATIHAN INTERNET MARKETING dan PENGABDIAN serta kita buat bersama terkait SEMILOKA Pengabdian Pramuka Pandega di Perti se Indoenesia. Agenda TKNP3T 2016 sangat seru dan memberikan kenangan yang sangat berkesan kenapa ? karena bertemu dengan teman – teman pramuka se – Indonesia. Harapannya untuk agenda TKNP3T di tahun 2021 akan menjadi lebih baik dan semakin memberikan contoh untuk pramuka perti di Indonesia.

Terimakasih Pramuka UNMUL.